7 Muharram 1448 H

Artikel

Kaget Melihat Adab

Kaget Melihat Adab

Ada fenomena menarik di zaman modern ini: banyak orang yang tampak asing ketika melihat perilaku beradab. Mereka terkejut saat menyaksikan seseorang berbicara sopan, menghormati yang lebih tua, atau bersikap santun kepada guru. Padahal, hal-hal seperti itu dulu adalah kebiasaan yang wajar, bagian dari napas kehidupan sosial yang sehat. Kini, adab seolah menjadi barang antik yang menimbulkan rasa heran bagi sebagian orang.


Orang yang terlalu lama hidup dalam suasana tanpa adab, akan kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai yang lembut. Mereka lebih mengenal logika kuasa daripada logika hormat. Lebih terbiasa dengan perdebatan daripada mendengar dengan rendah hati. Maka, ketika mereka melihat seseorang menunduk sopan kepada gurunya, spontan muncul tudingan: “feodal.” Kata itu keluar seperti refleks — bukan hasil berpikir, tapi akibat kebiasaan yang rusak.


Padahal, adab bukanlah simbol perbudakan. Adab adalah cara jiwa menjaga martabatnya. Berdiri di hadapan guru bukan tanda tunduk pada manusia, melainkan bentuk penghormatan terhadap ilmu yang dibawanya. Menunduk di depan orang tua bukan berarti merendahkan diri, melainkan mengangkat derajat kasih sayang yang telah membesarkan kita. Namun, di mata mereka yang kehilangan makna, semua bentuk hormat disangka ketundukan.


Kita sedang hidup di masa ketika kesetaraan dimaknai secara keliru. Banyak orang ingin sama tinggi dengan siapa pun, bahkan dengan mereka yang seharusnya dihormati. Mereka lupa bahwa kesetaraan tidak berarti meniadakan tata krama. Hormat tidak menurunkan derajat, justru meninggikan nilai kemanusiaan. Sebab, tanpa adab, pengetahuan hanya menjadi kesombongan, dan kebebasan hanya menjadi liar.


Adab adalah ruh dari peradaban. Ia adalah cara halus manusia menata hubungan — dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri. Tanpa adab, ilmu menjadi racun; kekuasaan menjadi alat menindas; bahkan cinta pun bisa berubah menjadi nafsu. Itulah sebabnya, bangsa yang kehilangan adab tidak akan pernah benar-benar maju, sekalipun teknologinya tinggi.


Mereka yang kagum pada kecerdasan tapi menertawakan kesopanan, sejatinya sedang menyaksikan peradaban runtuh tanpa sadar. Mereka memuja keberanian berkata apa saja, tapi tidak tahu kapan harus diam. Mereka mengira bebas berarti boleh tidak hormat. Padahal, kebebasan tanpa adab hanyalah bentuk baru dari kebiadaban.


Sungguh ironis, ketika anak muda merasa malu bersikap sopan, karena takut dicap kuno. Padahal, justru kesopananlah yang membuat manusia tampak berkelas. Mencium tangan orang tua bukan ritual masa lalu, tapi ekspresi hati yang masih mengenal terima kasih. Ucapan “permisi”, “terima kasih”, dan “maaf” bukan basa-basi, tapi tanda bahwa hati belum mati rasa.


Adab tidak bisa diajarkan hanya lewat kata-kata. Ia tumbuh dari teladan. Anak belajar hormat dari melihat bagaimana orang tuanya memperlakukan kakek-neneknya. Murid belajar sopan dari melihat bagaimana gurunya menghargai murid lain. Adab adalah warisan yang ditanam lewat kebiasaan sehari-hari, bukan lewat ceramah panjang.


Kita perlu jujur bertanya pada diri sendiri: apakah kita masih beradab, atau hanya pintar berbicara tentang adab? Apakah kita masih menaruh hormat pada yang lebih tua, atau justru sibuk mengukur segalanya dengan kesetaraan semu? Mungkin, kita sedang hidup di masa ketika orang tidak kehilangan pengetahuan, tapi kehilangan tata cara menggunakannya.


Adab bukan sekadar bentuk, melainkan isi. Ia adalah cermin hati yang lembut dan sadar diri. Maka, jangan heran jika ada orang yang kaget melihat adab. Itu bukan karena adab yang aneh, tapi karena mereka sudah terlalu lama hidup dalam kebisingan dunia yang kehilangan rasa hormat. Mungkin saatnya kita berhenti kaget — dan mulai belajar kembali menjadi manusia yang beradab.

Penulis: Harun Rasyid

Share
  Facebook Twitter WhatsApp LinkedIn
Laporkan Artikel ini?